Rabu, 19 Maret 2014

Paradigma Asuhan Kebidanan

A.   Pendahuluan

Keselamatan dan kesejahteraan ibu secara menyeluruh merupakan perhatian yang paling utama bagi bidan. Bidan, dalam memberikan pelayanan kesehatan, bertanggung jawab dan mempertanggung jawabkan praktikntya sehingga diperlukan bidan yang mempunyai pengetahuan dengan cara pandang yang baik. 

B.   Pengertian Paradigma
Bidan dalam bekerja memberikan pelayanan keprofesiannya berpegang pada paradigm, berupa pandangan terhadap manusia atau perempuan, lingkungan, perilaku, pelayanan kesehatan atau kebidanan, dan keturunan.

C.   Paradigma Asuhan Kebidanan
Paradigma kebidanan adalah suatu cara pandang bidan dalam memberikan pelayanan. Keberhasilan pelayanan tersebut dipengaruhi oleh pengetahuan dan cara pandang bidan dalam kaitan atau hubungan timbale-balik antara manusia atau wanita, lingkungan, perilaku, pelayanan kebidanan, dan keturunan.

D.   Komponen Paradigma Kebidanan
1.     Manusia
Perempuan, sebagaimana halnya manusia adalah makhluk bio-psiko-sosio-kultural yang utuh dan unik, mempunyai kebutuhan dasar yang unik dan bermacam-macam, sesuai dengan tingkat perkembangannya. Perempuan adalah penerus generasi, sehingga keberadaan perempuan yang sehat jasmani, rohani, dan social sangat diperlukan.
Perempuan sebagai sumber daya insane merupakan pendidik pertama dan utama dalam keluarga. Kualitas manusia sangat ditentukan oleh keberadaan atau kondisi perempuan atau ibu dalam keluarga. Para perempuan di masyarakat adalah penggerak dan pelopor peningkatan kesejahteraan keluarga.
2.    Lingkungan
Lingkunagn merupakan semua yang terlibat dalam interaksi individu pada waktu melaksanakan aktivitasnya, baik lingkungan fisik, psikososial, biologis maupun budaya. Lingkungan psikososoal meliputi keluarga, kelompok, komunitas, dan masyarakat.
Masyarakat merupakan kelompok paling penting dan kompleks yang telah dibentuk oleh manusia sebagai lingkungan social yang terdiri dari individu, keluarga dan komunitas yang mempunyai tujuan dan system nilai.
Perempuan merupakan bagian dari anggota keluarga serta unit komunitas. Keluarga, dalam fungsinya memengaruhi dan dipengaruhi oleh lingkungan di mana dia berada. Keluarga dapat menunjang kebutuhan sehai-hari dan memberikan dukungan emosional kepada ibu sepanjang siklus kehidupannya. Keadaan sosial ekonomi, pendidikan, kebudayaan dan lokasi tempat tinggal keluarga sangat menentukan derajat kesehatan reproduksi perempuan.
3.    Perilaku
Perilaku merupakan hasil dari berbagai pengalaman secara interaksi manusia dengan lingkungannya, yang terwujud dalam bentuk pengetahuan, sikap dan tindakan. Perilaku manusia bersifat holistic (menyeluruh). Adapun perilaku professional dari bidan mencakup :
a.     Dalam melaksanakan tugasnya berpegang teguh pada filosofi etika profesi dan aspek legal.
b.     Bertanggungjawab dan mempertanggungjawabkan keputusan klinis yang dibuatnya.
c.     Senantiasa mengikuti perkembangan pengetahuan dan keterampilan mutakhir secara berkala.
d.    Menggunakan cara pencegahan universal untuk mencegah penularan penyakit dan strategi pengendalian infeksi.
e.    Menggunakan konsultasi dan rujukan yang tepat selama memberikan asuhan kebidanan.
f.     Menghargai dan memanfaatkan budaya setempat sehubungan dengan praktik kesehatan, kehamilan, kelahiran, periode pasca persalinan, bayi baru lahir dan anak.
g.     Menggunakan model kemitraan dalam bekerjasama dengan kaum perempuanatau ibu agar mereka dapat menentukan pilihan yang telah diinformasikan tentang semua aspek asuhan, meminta persetujuan secara tertulis supaya mereka bertanggungjawab atas kesehatannya sendiri.
h.    Menggunakan keterampilan komunikasi.
i.      Bekerjasama dengan petugas kesehatan lain untuk meningakatkan pelayanan keseshatan ibu dan keluarga.
j.      Melakukan advokasi terhadap pilihan ibu dalam tatanan pelayanan.

Perilaku ibu selama hamil akan memengaruhi kehamilannya, perilaku ibu dalam mencari penolong persalinan akan memengaruhi kesejahteraan ibu dan janin yang dilahirkan, demikian juga perilaku ibu pada masa nifas akan memengaruhi kesehatan ibu dan bayinya.
Dengan demiku=ian perilaku ibu dapat memengaruhi kesejahteraan ibu dan janinnya.
4.    Pelayanan Kebidanan
Pelayanan kebidanan merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan, yang diarahkan untuk mewujudkan kesehatan keluarga dalam rangka tercapainya keluarga yang berkualitas. Pelayanan kebidanan merupakan layanan yang diberikan oleh bidan sesuai dengan kewenangan yang diberikan dengan meksud meningkatkan kesehatan ibu dan anak dalam rangka tercapainya keluarga berkualitas, bahagia dan sejahtera.
Sasaran pelayanan kebidanan adalah individu, keluarga dan masyarakat yang meliputi upaya peningkatan, pencegahan, penyembuhan, dan pemulihan.
Layanan kebidanan dapat dibedakan menjadi :
a.     Layanan kebidanan primer adalah layanan bidan yang sepenuhnya menjadi tanggungjawab bidan.
b.     Layanan kebidanan kolaborasi adalah layanan yang dilakukan oleh bidan sebagai anggota tim yang kegiatannya dilakukan secara bersamaan atau sebagai salah satu urutan dari sebuah proses kegiatan pelayanan kesehatan.
c.     Layanan kebidanan rujukan adalah layanan yang dilakukan oleh bidan dalam rangka rujukan ke system pelayanan yang lenih tinggi atau sebaliknya yaitu yang dilakukan oleh bidan sewaktu menerima rujukan dari dukun yang menolong persalinan, juga layanan rujukan yang dilakukan oleh bidan ke tempat atau fasilitas pelayanan kesehatan lain secara horizontal maupun vertikal atau ke profesi kesehatan lainnya. Layanan kebidanan yang tepat akan meningkatkan keamanan dan kesejahteraan ibu dan bayi.
5.    Keturunan
Kualitas manusia, di antaranya ditentukan oleh keturunan. Manusia yang sehat akan dilahirkan oleh ibu yang sehat. Ini menyangkut kesiapan perempuan sebelum perkawinan, sebelum kehamilan (pra-konsepsi), masa kehamilan, masa kelahiran, dan masa nifas.
Walaupun kehamilan, kelahiran, dan nifas adalah sangat penting dan mempunyai keterkaitan satu sama lain yang tak dapat dipisahkan, dan semua adalah tugas utama bidan.

E.   Macam-Macam Asuhan Kebidanan
1)    Asuhan kebidanan pada ibu hamil
2)   Asuhan kebidanan pada ibu bersalin
3)   Asuhan kebidanan pada bayi baru lahir
4)   Asuhan kebidanan pada ibu nifas
5)   Asuhan kebidanan pada akseptor KB.

F.   Manfaat Paradigma Dikaitkan Dengan Asuhan Kebidanan
Bidan memiliki peran unik dalam memberi pelayanan kesehatan bagi ibu dan anak, yakni saling melengkapi dangan tenaga kesehatan professional lainnya. Bidan adalah praktisi yang memberi asuhan kebidanan pada ibu hamil dan bersalin yang normal, asuhan terhadap kasus gangguan system reproduksi wanita, serta gangguan kesehatan bagi anak balita sesuai dengan kewenangannya. Bidan harus selalu mengembangkan dirinya agar mampu memenuhi peningkatan kebutuhan kesehatan kliennya (ibu dan anak).
Tugas bidan adalah memberi pelayanan atau asuhan kebidanan. Pelayanan atau asuhan kebidanan berfokus pada ibu dan balita. Lebih rincinya, pelayanan kebidanan mencakup pra-perkawinan, kehamilan, melahirkan, menyusui, dan nifas, serta pelayanan atau asuhan kebidanan pada bayi, balita, remaja, dan perempuan usia subur. Sesuaia dengan kewenangannya, bidan dapat melakukan pelayanan atau asuhan pada kasus-kasus patologis.
Memberi pelayanan kebidanan pada keluarga berencana juga merupakan tugas bidan. Setiap kegiatan bidan untuk mencegah penyakit, meningkatkan kesehatan, mengobati serta memulihkan kesehatan ibu dan anak sesuai dengan kewenangannya, dilakukan melalui asuhan atau pelayanan kebidanan.
Kata kebidanan memberi pengertian ilmu atau pengetahuan pokok yang dimiliki oleh seorang bidan, yang digunakan untuk melaksanakan tugas dan fungsinya dalam kegiatan kebidanan sesuai dengan kewenangan yang ditujukan pada calon ibu, ibu, dan anak balita. Kebidanan merupaka sistesis berbagai ilmu dan pengetahuan, mencakup ilmu obstetric, ilmu perilaku, ilmu mengenai kebutuhan manusia, dan ilmu social yang berkaitan dengan kesehatan ibu dan anak.
Ibu adalah sasaran utama pelayanan kebidanan. Ibu yang sehat akan melahirkan  bayi yang sehat. Masalah kesehatan bayi dimulai sejak terjadinyaa konsepsi bayi. Balita yang sehat menjadi modal utama dalam pembentukan generasi yang kuat, berkualitas, dan produktif di masa yang akan datang. Ibu sebagai individu juga memberi kontribusi yang penting bagi kesehatan dan kesejahteraan keluarga di masyarakat. Sebagai wanita, ibu juga bisa berperan di berbagai sector. Sebagai bagian dari keluarga, ibu dan anak yang sehat merupakan sasaran pelayanan atau asuhan kebidanan di Indonesia. Dengan demikian, fenomena kebidanan di Indonesia adalah masyarakat (ibu) yang berperilaku sehat, mau dan mampu memanfaatkan pelayanan atau asuhan kebidanan yang tersedia sehingga meningkatkan derajat kesehatan ibu dan balita.
Penurunan angka kematian ibu melahirkan, bayi dan balita merupakan indikator keberhasilan pelayanan kesehatan. Dalam memberi pelayanan kebidanan perlu dipertimbangkan factor-faktor yang mempengaruhi kesehatan ibu dan anak seperti perilaku masyarakat, keturunan serta lingkungan, yag mencakup linkungan sosian dan ekonomi

G.    Kesimpulan
Bidan memiliki peran unik dalam memberi pelayanan kesehatan ibu dan anak, yakni saling melengkapi dengan tenaga kesehatan professional lainnya. Bidan harus selalu mengembangkan dirinya agar mampu memenuhi peningkatan kebutuhan kesehatan klien (ibu dan anak).

SOAP pada Ibu Bersalin dari KALA I sampai KALA IV




ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU BERSALIN
Asuhan Kebidanan Pada Ibu Bersalin KALA I
Tanggal : 18-12-2010
jam : 07.00 WIB
Tempat : BPS Bd. Juju, Sumedang

1. Data subjektif
a.       Biodata
-          Nama Ibu   : Ny. R
-          Umur         : 20 tahun
-          Agama       : Islam 
-          Pendidikan           : SMP
-          Pekerjaan   : tidak bekerja
-          Alamat       : Ling.Babakan hurip RT. 03 RW. 08 Kel.kota kaler Kec. Sumedang Utara

-          Suami        : Tn.A
-          Umur         : 36 tahun
-          Agama       : Islam
-          Pendidikan             : SMA
-          Pekerjaan   : Wiraswasta
-          Alamat       : Ling.Babakan hurip RT 03 RW 08 Kel.Kota Kaler Kec. Sumedang Utara



b.      Riwayat Kehamilan Sekarang
HPHT : 20-01-2010 ibu merasa hamil 8 bulan,kehamilan ini merupakan kehamilan yang pertama. Selama ini memeriksakan kehamilan di bidan. Telah mendapat tablet penambah darah sebanyak 90 tablet,dikonsumsi secara teratur sehari 1 tablet diminum dengan air putih. Telah d imunisasi TT secara teratur 2x pada umur kehamilan 3 dan 4 bulan. Gerakan janin mulai dirasakan sejak kehamilan umur kurang lebih 5bln dan masih dirasakan sampai sekarang. Obat yang diminum hanya dari bidan. Ibu mengetahui sedikit tentang tanda bahaya pada kehamilan dan mengeluh pegal-pegal pada tangan dan kaki.
c.       Riwayat kesehatan/penyakit yang di derita
Ibu tidak pernah menderita penyakit-penyakit yang berat seperti penyakit jantung, darah tinggi, kencing manis, ginjal, asma, HIV/AIDS dan penyakit berat lainnya.
d.      Riwayat sosial ekonomi
Pernikahan lamanya kurang lebih satu tahun, ibu sangat bahagia dengan kehamilannya. Sebelum hamil ibu tidak menggunakan KB. Pengambilan keputusan oleh suami. Makan sehari 3 kali, dengan menu nasi, tempe, sayur, telur dan ikan.daging dan buah-buahan jarang dikonsumsi .tidak ada makanan yang di pantang. Tidak punya kebiasaan merokok dan minum minuman keras. Pekerjaan rumah tangga dikerjakan sendiri. Selama kehamilan hubungan seksual tidak ada masalah. Rencana melahirkan di bidan.
e.       Data Subjektif
Ibu datang ke rumah jam 06.00 WIB. Ibu mengeluh mulai mules-mules sejak jam 01.00 WIB, disertai keluar lendir campur darah.. jam 04.00 WIB mules bertambah kuat dari pinggang menjalar ke perut bagian bawah. Gerakan janin masih dirasakan, semalam ibu kurang istirahat, BAK sering, BAB terakhir jam 05.00 WIB serta makan dan minum terakhir jam 06.30 WIB.
2.      Data Objektif
a.       Pemeriksaan Fisik
·         Keadaan umum : baik, ibu tampak kesakitan karena his
·         Tanda Vital
·         Tekanan Darah : 120/80 mmHg Denyut Nadi : 84 /menit
·         Suhu Tubuh : 36 °C Pernafasan : 20 /menit
·         Abdomen : kandung kemih kosong.
·         TFU 34 cm, posisi ounggung kiri, presasentasi kepala, penurunan kepala 2/5, DJJ 140 x/menit, irama reguler. His (+), frekuensi 4 x dalam 10 menit lamanya 40 detik
b.      Pemeriksaan Dalam

·         V/V : Tidak ada kelainan
·         Portio : Tipis Lunak
·         Pembukaan : 4 cm
·         Ketuban : Utuh
·         Presentasi : Kepala
·         Penurunan Kepala: H III+. Ubun-ubun kecil kiri depan, tidak ada bagian yang terkemuka.

c.       Assesment

G1 P0A0 parturien aterm kala I fase aktif, janin tunggal hidup intrauterine, presentasi kepala. Keadaan ibu dan janin baik.
d.       Planning
·         Membina kembali hubungan baik ibu dan keluarga
·         Memberitahukan hasil pemeriksaan pada ibu dan keluarga
·         Melakukan informed consent à ibu menandatanginya.
·         Memantau kemajuan persalinan, keadaan ibu dan janin dengan partograf à partograf terlampir
·         Menawarkan pendamping persalinan à ibu memilih suaminya
·         Menawarkan posisi yang nyaman sesuai keinginan ibu à ibu memilih untuk jalan-jalan dan jongkok bila ada his
·         Memberikan informasi tentang proses persalinan
·         Menawarkan makan atau minum dísela his à minum ± 100 cc air teh manis
·         Memberikan dukungan mental dan spiritual pada ibu à ibu nampak berdoa setiap ada his
·         Mengajarkan dan membimbing teknik relaksasi dísela ada his untuk mengurangi rasa nyeri dan menganjurkan ibu untuk istirahat atau bila tidak ada his à ibu menarik nafas dan mengeluarkannya dari mulut setiap ada his
·         Menganjurkan pada ibu untuk tidak menahan BAK dan BAB setiap menginginkan à jam 08.00 WIB ibu BAK urine ± 150 cc
·         Menyiapkan alat partus, alat resusitasi, kelengkapan bayi dan ibu à partus set, alat resusitasi bayi, kelengkapan ibu dan bayi sudah lengkap

Asuhan Kebidanan Pada Ibu Bersalin Kala II
Tanggal : 10 Oktober 2010
Jam : 11.00 WIB
Tempat : BPS Bd. Juju, Sumedang
1.      Data Subjektif
Ibu mengatakan mulesnya makin seringdan kuat, ada perasaan ingin mengedan, pinggang terasa sakit dan keluar air-air dari jalan lahir.
2.      Data objektif

a.       Pemeriksaan fisik
·         Keadaan umum : Baik
·         Abdomen
·         Palpasi :His kuat 5 kali dalam 10 detik
·         Auskultasi : DJJ 144 X / menit irama reguler
 
b.      Pemeriksaan Dalam
·         V / V : Tidak ada kelainan, tampaklendir campur darah
·         Pembukaan : Lengkap
·         Ketuban (-) pecah spontan jam 11.00 WIB, cairan berwarna jernih
·         Penurunan Kepala :H IV, ubun-ubun kecil kiri depan tidak ada bagin yang menumbung

3.      Assesment
G1 P0A0 parturien aterm kala II fase aktif,keadaan ibu dan janin baik dengan kemajuan persalinan normal.
4.      Planning
·         Memberitahukan hasil pemeriksaan padaibu dan keluarga.
·         Menghadirkan pendamping persalinan sesuai dengan keinginan ibu à ibu ingi didampingi suaminya.
·         Menawarkan kepada ibu untuk memilih posisi meneran yang nyaman à ibu ingin posisi setengah duduk.
·         Membibing meneran pada saat ada HIS dan saat ibu mempunyai dorongan saat meneran.
·         Memberi pujian jika ibu dapat meneran dengan baik.
·         Memberi dukungan moral dan spiritual pada ibu.
·         Menawarkan minum disela HIS à ibu minum ± 100 cc air teh manis.
·         Mengecek kembali kelengkapan alat partus set dan kelangkapan lainnya untuk ibu dan bayi à partus set dan kelengkapan lainnya lengkap.
·         Menolong persalinan secara APN à jam 11.30 WIB bayi lahir spontan segera menangis jenis kelamin laki-laki.

Asuhan Kebidanan Pada Ibu Bersalin Kala III
Tanggal : 10 oktober 2010
Jam : 11.30 WIB
Tempat : BPS Bd. Juju. Sumedang

1.      Data Subjektif
Ibu mengatakan mules

2.      Data Objektif
Keadaan umum ibu baik, plasenta belum lahir.

3.      Assesment
P0A0 parturien aterm kala III keadaan umum ibu baik

4.      Planning
·         Memberitahukan hasil pemeriksaan pada ibu dan keluarga.
·         Memastikan kandung kemih kosong à kandung kemih kosong.
·         Memastikan janin tunggal à janin tunggal.
·         Melakukan manajemen aktif kala III :
·         Memberitahukan ibu akan disuntik
·         Menyuntik Oxytocin 10 IU secara IM
·         Melakukan PTT, dengan menahan uterus kearah dorso cranial
·         Melahirkan plasenta à jam 11.40 WIB placenta lahir secara spontan
·         Pengeluaran darah pervaginam à pengeluaran darah ± 300 cc.



Asuhan Kebidanan Pada Ibu Bersalin Kala IV
Tanggal : 10 oktober 2010
Jam : 10.30 WIB
Tempat : BPS Bd. Juju. sumedang
1.      Data Subjektif :

2.      Data Objektif
Jam 10.30 WIB placenta lahir spontan, pengeluaran darah ± 300 cc

3.      Assesment
P0A0 parturien aterm kala IV keadaan umum ibu baik

4.      Planning
·         Memberitahukan hasil pemeriksaan pada ibu dan keluarga
·         Melakukan massage uterus à kontraksi uterus baik
·         Memeriksa robekan jalan lahir à tidak ada laserasi
·         Mengajarkan ibu dan keluarga cara menilai kontraksi uterus dan cara melakukan massage uterus jika uterus kurang baik à respon ibu baik dan mau mengikuti cara untuk melakukan massge.
·         Memantau kontraksi uterus, TFU, pengeluaran pervaginam , kandung kemih dan tanda vital tiap 15 menit pada jam pertama dan 30 menit pada jam kedua à hasil terlampir pada patograf.
·         Membersihkan badan dan mengganti pakaian ibu dengan baju yang bersih dan kering à ibu tampak nyaman.
·         Mendekontaminasikan alat-alat partus dalam larutan clorine 0,5 % selama 10 menit lalu memprosesnya.
·         Melaksanakan kontak dini ibu dan bayi dengan mendekap dan menyusui bayi nya
·         Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir.
·         Mengucapkan selamat pada ibu dan keluarga.
·         Mengajarkan ibu untuk istirahat, makan dan minum.

Konsep Dasar Manusia





Teori kebutuhan dasar manusia
            Kebutuhan dasar manusia merupakan unsur-unsur yang dibutuhkan oleh manusia dalam menjaga keseimbangan baik secara fisiologis maupun psikologis. Hal ini bertujuan untuk mempertahankan kehidupan dan kesehatan.
1.      Abraham Maslow
Manusia mempunyai kebutuhan tertentu yang harus dipenuhi secara memuaskan melalui proses homeostasis, baik fisiologis maupun psikologis. Abraham  Maslow seorang psikolog dari Amerika mengembangkan teori tentang kebutuhan dasar manusia yang lebih dikenal dengan istilah Hierarki Kebutuhan Dasar Hidup Maslow. Hirearki tersebut memiliki lima kategori kebutuhan dasar :
a.       Kebutuhan fisiologis
Kebutuhan fisiologis memiliki prioritas tertinggi dalam hierarki ini. Pada umumnya manusia yang belum terpenuhi kebutuhannya akan terlebih dahulu memenuhi kebutuhan fisiologis dibanding dengan kebutuhan yang lainnya. Contohnya seseorang yang kekurangan makanan akan memprioritaskan kebutuhan makan dibanding kebutuhan cinta dan harga diri. Delapan kebutuhan fisiologis meliputi:
1)      Kebutuhan oksigen dan pertukaran gas
2)      Kebutuhan cairan dan elektrolit
3)      Kebutuhan makanan
4)      Kebutuhan eliminasi urine dan alvi
5)      Kebutuhan istirahat dan tidur
6)      Kebutuhan aktivitas
7)      Kebutuhan kesehatan temperatur tubuh
8)      Kebutuhan seksual
b.      Kebutuhan keselamatan dan rasa aman
Kebutuhan keselamatan dan rasa aman yang dimaksud adalah aman dari berbagai aspek baik fisiologis maupun psikologis, meliputi:
1)      Kebutuhan perlindungan diri dari udara dingin, panas, kecelakaan, dan infeksi
2)      Bebas dari rasa takut dan kecemasan
3)      Bebas dari perasaan terancam karena pengalaman yang baru atau asing
c.       Kebutuhan rasa cinta, memiliki dan dimiliki
1)      Memberi dan menerima kasih sayang
2)      Perasaan dimiliki dan hubungan yang berarti dengan orang lain
3)      Kehangatan
4)      Persahabatan
5)      Mendapat tempat atau diakui dalam keluarga, kelompok dan lingkungan sosial
d.      Kebutuhan harga diri
1)      Perasaan tidak bergantung pada orang lain
2)      Kompeten
3)      Perhargaan terhadap diri sendiri dan orang lain
e.       Kebutuhan aktualisasi diri
1)      Dapat mengenal diri sendiri dengan baik
2)      Belajar memenuhi kebutuhan diri sendiri
3)      Tidak emosional
4)      Mempunyai dedikasi tinggi
5)      Kreatif
6)      Mempunyai kepercayaan diri yang tinggi

Gambar 1.1 Hierarki Kebutuhan Maslow
Konsep hierarki diatas menjelaskan  bahwa untuk memenuhi kebutuhan yang lebih tinggi, kebutuhan dasar dibawahnya harus terpenuhi.

2.      King
       Manusia merupakan individu kreatif yang dapat bereaksi terhadap situasi, orang, dan objek tertentu. Sebagai makhluk sosial, manusia hidup bersama orang lain dan berinteraksi satu sama lain. Berdasarkan hal tersebut manusia dibagi menjadi tiga :
a.       Kebutuhan akan informasi kesehatan
b.      Kebutuhan akan pencegahan penyakit
c.       Kebutuhan akan perawatan ketika sakit

3.      Martha E. Rogers
M
anusia sebagai unit. Manusia merupakan satu kesatuan yang utuh yang memiliki sifat dan karakteristik yang berbeda. Manusia selalu berinteraksi dengan lingkungan dan mempengaruhi satu sama lain. Dalam proses kehidupannya, manusia diciptakan dengan karakteristik dan keunikannya masing-masing.

4.      Johnson
J
Individu dipandang sebagai sistem perilaku yang selalu ingin mencapai keseimbangan dan stabilitas, baik dalam lingkungan internal maupun eksternal. Individu mempunyai keinginan untuk mengatur dan menyesuaikan dirinya terhadap pengaruh yang timbul.

5.      Virginia Henderson
Manusia mengalami perkembangan yang dimulai dari proses tumbuh kembang dalam rentang kehidupan. Dalam melakukan aktivitas sehari-hari, individu memulainya dengan bergantung pada orang lain dan belajar untuk mandiri melalui sebuah prosesyang disebut kedewasaan. Proses tersebut dipengaruhi oleh pola asuh, lingkungan sekitar, dan status kesehatan individu. Dalam beraktivitas individu dikelompokkan dalam tiga kategori:
1)      Terhambat dalam melakukan aktivitas
2)      Belum mampu melakukan aktivitas
3)      Tidak dapat melakukan aktivitas

6.      Sister Calista Roy
Manusia dapat meningkatkan kesehatannya dengan mempertahankan perilaku yang adaptif dan mengubah perilaku maladaptif. Sebagai makhluk biopsikososial manusia selalu berinteraksi dengan lingkungannya. Untuk mencapai homeostasis (keseimbangan) manusia harus beradaptasi dengan perubahan yang terjadi. Secara keseluruhan menurut Roy, manusia sebagai makhluk biopsikososiospiritual yang merupakan kesatuan yang utuh, memiliki koping mekanisme untuk beradaptasi dengan perubahan lingkungan yang terjadi melalui interaksi yang dilakukan terhadap perubahan lingkungan.

A.    Faktor yang mempengaruhi pemenuhan kebutuhan
1.      Penyakit. Saat seseorang dalam kondisi sakit, ia tidak akan mampu memenuhi kebutuhannya sendiri, dengan demikian individu tersebut akan bergantung pada orang lain dalam pemenuhan kebutuhan dasarnya.
2.      Hubungan yang berarti. Keluarga merupakan sistem pendukung bagi individu.
3.      Konsep diri. Konsep diri mempengaruhi kemampuan individu untuk memenuhi kebutuhannya. Konsep diri yang positif akan mudah mengenali dan memenuhi kebutuhannya serta mengembangkan cara sehat guna memenuhi kebutuhan tersebut. Pada seseorang yang konsep diri negatif (depresi) akan mengalami perubahan kepribadian dan suasana hati yang dapat mempengaruhi persepsi dan kemampuan dalam memenuhi kebutuhannya tersebut.
4.      Tahap perkembangan. Perkembangan adalah bertambahnya kemampuan dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks, dalam suatu pola yang teratur dan dapat diprediksi.
5.      Struktur keluarga. Struktur keluarga dapat mempengaruhi cara klien memuaskan kebutuhannya. Sebagai contoh, seorang ibu mungkin akan lebih mendahulukan kebutuhan bayinya dibandingkan kebutuhannya.

B.     Manusia sebagai Sistem
Sistem merupakan gabungan dari elemen yag dihubungkan oleh suatu proses atau struktur dan berfungsi sebagai satu kesatuan organisasi dalam upaya menghasilkan sesuatu yang telah ditetapkan.
Manusia sebagai sistem terdiri atas subsistem yang saling berhubungan secara terintegrasi untuk membentuk satu kesatuan sistem (sistem total). Manusia sebagai sistem meliputi komponen biologis, psikologis, sosial dan spiritual. Manusia sebagai sistem terbagi atas dua jenis, yakni:
1.      Manusia sebagai sistem adaptif.
Adaptasi adalah proses perubahan yang menyertai individu ketika berespon terhadap perubahan lingkungan yang dapat mempengaruhi integritas maupun keutuhannya. Menurut Roy (1976) perilaku adaptif merupakan perilaku individu secara utuh dalam beradaptasi dan menanggapi rangsang lingkungan.
2.      Manusia sebagai sistem personal, interpersonal dan sosial.
Menurut King (1976) ada tiga dinamika sistem interaksi manusia:
ü  Sistem personal(individu). Pada sistem ini tenaga kesehatan harus paham tentang konsep diri, persepsi, serta pertumbuhan dan perkembangan.
ü  Sistem interpersonal (kelompok). Pada sistem ini tenaga kesehatan harus mengerti tentang konsep berinteraksi sosial serta memahami apa peranan tenaga kesehatan dalam sistem tersebut. Tenaga kesehatan juga harus mampu berkomunikasi secara efektif.
ü  Sistem sosial (masyarakat). Dalam sistem sosial, tenaga kesehatan harus paham tentang konsep pengorganisasian kekuatan, otoritas atau tindakan mandiri yang dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan. Selain itu juga diharapkan mampu mengambil keputusan dengan cepat dan tepat.

C.    Manusia sebagai Makhluk Holistik
Manusia sebagai makhluk holistik memiliki makna bahwa manusia adalah makhluk utuh atau menyeluruh yang terdiri dari unsur biologis, psikologis, sosial dan spiritual. Adanya gangguan pada salah satu unsur akan mempengaruhi yang lain. Menurut model ini manusia terdiri atas:
1.      Unsur biologis
ü  Manusia merupakan susunan organ tubuh
ü  Mempunyai kebutuhan untuk dapat mempertahankan hidupnya
ü 
Spiritual
Tidak terlepas dari hukum alam : lahir, berkembang, dan meninggal
2.      Unsur psikologis
ü  Mempunyai kepribadian              
ü  Tingkah laku merupakan manifestasi kejiwaan
ü  Mempunyai kebutuhan psikilogis
agar kepribadiannya berkembang           Gambar1.2 Model Individu Holistik
3.      Unsur sosial
ü Perlu hidup bersama orang lain dan bekerjasama untuk memenuhi kebutuhan dan tuntutan hidupnya
ü Dalam sistem sosial, padangan individu, kelompok dan masyarakat dipengaruhi oleh kebudayaan
ü Manusia dipengaruhi oleh lingkungan sosial
ü Manusia dituntut berperilaku sesuai dengan harapan dan norma yang berlaku di masyarakat
4.      Unsur spritual
ü  Manusia mempunyai keyakinan atau mengakui adanya Tuhan Yang Maha Esa
ü  Memiliki padangan hidup
ü  Mempunyai semangat hidup sejalan dengan keyakinan yang dianutnya

D.    Manusia sebagai Sistem Adaptif
1.      Adaptasi fisiologis
Adaptasi fisiologis merupakan suatu bentuk penyesuaian tubuh secara alamiah untuk mempertahankan keseimbangannya dari berbagai faktor penggangu. Tubuh mempunyai mekanisme pertahanan alamiah yang bekerja secara teratur agar dapat beradaptasi dengan faktor internal dan eksternal. Adaptasi fisiologis meliputi:
a.       Local Adaptation Syndrome (LAS)
Penyesuaian ini dapat dilihat pada saat terjadi peradangan. Manifestasi radang pada lokasi infksi menunjukkan perubahan fisiologs disertai gejala khusus yang khas seperti merah, bengkak, nyeri, panas dan keterbatasan anggota gerak (fungtion laesa). Jika penyebab ketegangan atau stress teralu besar, maka tubuh akan bereaksi secara umum (GAS)
b.      General Adaptation Syndrome (GAS)
Penyesuaian ini menimbulkan pengaruh yang umu pada bagain tubuh, ini trjadi jika individu mengalami stress dalam jangka waktu yang lama. Saat seseorang mengalami stress, sebuah pesan akan dikirimkan tubuh ke otak (hipotalamus), selanjutnya sistem syaraf otonom dan endokrin akan terangsang mengakibatkan perubahan fisiologis disertai gejala tertentu,
Menurut Selye (1976) ada tiga tahap dalam Las dan Gas:
1)      Reaksi Cemas (alarm reaction, AR)
       Tubuh menyadari adanya penyebab stress dan secara sadar atau tidak sadar terpicu untuk melakukan tindakan.
2)      Tahap perlawanan (stage of stress, SR)
        Tubuh berupaya melawan reaksi yang muncul, tidak ada seorang pun yang yang mampu bertahan terus menerus dalam kondisi tersebut. Tingkat perlawanan tubuh akan meningkat melebihi batas normal untuk menghadapi penyebab stress.
3)      Tahap kelelahan (stage of exhaustion, SE)
        Jika tubuh dibiarkan terus-menerus menerima penyebab stress, suatu saat tubuh akan mencapai tahap kelelahan. Gejala cemas kembali muncul. Jika penyebab stess tidak bisa diatasi, gejala tersebut tidak akan berubah. Bahaya kematian akanmenjelang kecuali jika tubuh memperoleh teknik untuk menyesuaikan diri atau menemukan cara baru untuk mengatasi stress.



Stressor
Reaksi Cemas
Tahap Perlawanan
Tahap Kelelahan
Istirahat
Kematian
 
















Gambar 1.3 Tahap adaptasi fisiologis stress

2.      Adaptasi Psikologis
Adaptasi psikologis merupakan bentuk penyesuaian secara psikologis terhadap stressor dengan membangun mekanisme pertahanan diri agar dapat melindungi diri dari berbagai serangan atau hal-hal yang tidak menyenangkan.
a.       Orientasi tugas
Orientasi tugas merupakan suatu strategi pemecahan masalah atau problem solving strategies dengan cara konstruktif dan berorientasi pada kenyataan.
b.      Orientasi ego
Metode ini dikenal dengan istilah pertahanan diri atau defense mechanism. Secara rinci dapat dijelaskan sebagai berikut:
1)      Rasionalisasi
Upaya menghindari masalah dengan memberikan alasan yang rasional sehingga masalah yang dihadapi dapat teratasi.
Contoh: seorang mahasiswa yang nilai ulangannya jelek memberikan alasan bahwa ia sakit sehingga tidak bisa belajar. Padahal sebenarnya IQ-nya kurang.
2)      Mengisar (displacement)
        Memindahkan tingkah laku kepada objek lain.
        Contoh: seorang mahasiswa yang berbuat kesalahan pada waktu praktik dan dimarahi oleh pembimbingnya balik memarahi teman-temannya.
3)      Identifikasi
        Menghadapi orang lain dengan menjadikan kepribadian orang tersebut sebagai kepribadiannya.
        Contoh: seseorang yang mengidolakan seseorang yang menurutnya baik, maka ia akan meniru dan mengubah dirinya menjadi seperti orang yang diidolakannya.
4)      Kompensasi
        Merupakan suatu upaya untuk mengatasi masalah dengan mencari kepuasan di bidang lain.
        Contoh: seseorang yang kurang ahli pada mata kuliah menghafal justru menonjol pada mata kuliah seni.
5)      Proyeksi
        Menempatkan sifat batin sendiri ke dalam sifat batin orang lain.
        Contoh : seseorang yang membenci orang lain mengatakan bahwa orang itulah yang membencinya.
6)      Represi
        Menghilangkan pikiran masa lalu yang buruk dengan melupakan dan menekannya ke dalam bawah sadar.
7)      Supresi
Menekan masalah yang tidak menyenangkan secara sadar, dengan kata lain individu tidak mau memikirkan hal yang tidak menyenangkan.
8)      Penyangkalan (denial)
Menyangkal masalah yang dihadapi. Contoh: seornag penderita Diabetes Melitus memakan makanan yang sebenarnya pantangan.
9)      Overkompensasi/pembentukan reaksi
Pola perilaku individu yang gagal dalam mencapai tujuannya. Individu tersebut tidak mengakui tujuan awalnya dengan melupakannya dan melebihkan tujuan kedua.

Daftar Pustaka
Hurlock, E 1980. Psikologi Perkembangan: suatu pendekatan sepanjang rentang kehidupan. Jakarta : Erlangga
Monks, F.J., dkk. 2004. Psikologi Perkembangan: Pengantar dalam Berbagai Bagiannya. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
Kozier, B. 1997. Fundamental of Nursing: Concept and Procedure. California: Anderson Wesley Publising Co
Matondang, C.S. 2010. Tumbuh Kembang Anak dan Remaja. Jakarta : Sagung Seto
Mubarak, W.I 2008. Pengantar Keperawatan. Jakarta : Sagung Seto
Mubarak, W.I dan Nurul C. 2008. Buku Ajar Kebutuhan Dasar Manusia: Teori dan Aplikasi dalam Praktik. Jakarta: EGC
Uliyah, Musrifatul dan Aziz Alimul. 2008. Ketrampilan Dasar Praktik Klinik untuk Kebidanan, Edisi II. Jakarta: Salemba Medika